ASAL USUL DESA KEMANGKON, Kemangkon, Purbalingga

peta kecamatan kemangkon

Asal usul atau cerita singkat berdirinya Desa Kemangkon atau cikal bakal Desa Kemangkon. Para tokoh-tokoh masyarakat pada zaman dahulu yang menyakini bahwa Desa Kemangkon mempunyai Kepunden yang hingga saat ini dipercaya oleh masyarakat Kemangkon. 

Kepunden tersebut mempunyai nama Mbah mangku, dan bentuknya besar sehingga desa Kemangkon termasuk desa Mistis terutama di bagian dusun 1 yaitu Kemangkon, dusun 2 Kedungtuk, dan dusun 3 Kemojing. Kemangkon berasal dari kata Kemangkuan. Desa Kemangkon lahir sekitar tahun 18-an.

Berikut ini adalah daftar kepemimpinan atau lurah yang ada di Desa Kemangkon hingga saat ini :
1. Mbah usmanawi
2. Mbah karto sudarno
3. Mbah samsu
4. Mbah wirya semita/Kaman
5. Abdulah basirun dulabas sulaini
6. Amireja
7. Somadi/imam hidayat
8. Masdar
9. Sarengat - sekarang

Sejarah yang banyak di ceritakan oleh masyarakat Desa Kemangkon dan dimengerti akan menjadikan Kemangkon desa “gemah ripah loh jinawi” penuh dengan ketentraman dan kenyamanan.

Wilayah Kemangkon terbagi atas dua wilayah besar, yaitu lor klawing dan kidul klawing. Untuk lor klawing cenderung lebih dekat dengan wilayah kota. Jadi, pembangunan lebih terasa, sedangkan kidul klawing menjadi semacam kota kecil yang terputus dari keramaian kota. Namun masing-masing memiliki potensi. Ada beberapa potensi yang mungkin masih perlu di teliti lebih lanjut.

Contohnya adalah:
1. Situs Kedung Benda merupakan batuan berbentuk lingga dan yoni yang berlokasi di Desa Kedung Benda atau wilayah paling ujung barat Kecamatan Kemangkon. Orang-orang menyebutnya Panembahan drona.

2. Objek wisata congot merupakan titik pertemun sungai klawing dan sungai serayu. Terlihat membentuk semacam danau kecil, sayangnya kurang pepohonan membuat objek wisata itu terlihat panas dan gersang.

Beberapa objek atau benda memiliki potensi spiritual dan sejarah biasanya menjadi objek dalam asal usul suatu desa. Contohnya adalah yang berada di Desa Karang Kemiri, objek ini berupa semacam petilasan seperti makam yang dengan
cungkup diatasnya. 

Orang sekitar menyebutnya Panembahan cupit urang, secara bentuk lahan memang mirip dengan capit udang atau kepiting. Selanjutnya adalah Setana dawa (setana=makam) yang berlokasi di Desa Bakulan diyakini sebagai makam orang hindu atau budha yang berarti pemakaman ini sudah cukup lama ada di sana. Jaman dahulu lokasi makam yang berada di tengah sawah ini walaupun sekelilingnya banjir lokasi ini tidak pernah kebanjiran.

Selanjutnya ada makam yang dipercaya sebagai kerabat kraton. Entah itu yogya (jogja) atau solo, beberapa orang disana sama sekali tidak mengetahuinya, makam ini berlokasi di dukuh Bakulan lor desa Bakulan.

Selanjutnya menyebrang ke Kecamatan Bukateja tepatnya di desa Wirasaba. Ini adalah desa yang dahulu terdapat Kadipaten besar yang wilayahnya mencapai wilayah Banyumas, Purbalingga bagian selatan, Banjar negara, dan sebagian Wonosobo. 

Namun surut selepas adanya peristiwa setu pahing yang menimpa adipati warga utama 1 yang selanjutnya wilayah mengecil atau dibagi 4 oleh Raden Jaka Kaiman atau warga utama 2 dan hanya wilayah Banyumas yang terus bertahan dan menjadi Kabupaten Banyumas sekarang. Konon, adipati Wirasaba masih keturunan Prabu brawijaya V dari majapahit. 

Jika kita memasuki Desa Wirasaba terutama di bagian tengah (masuk dekat lapangan udara wirasaba) maka sangat
terasa bekas kadipaten, disana masih banyak rumah jawa yang sudah lama, terutama yang berbentuk tikelan. Selanjutnya di Wirasaba terdapat beberapa makam yang kemungkinan besar masih kerabat kadipaten. Dari tulisan diatasnya rata-rata terdapat gelar kebangsawanan (kebanyakan R/raden dan Ray/raden ayu).

Penjelajahan spiritual dan sejarah diwilayah ini memeng belum tereksplor dan bahkan masih membutuhkan banyak riset, namun dari fakta di lapangan menunjukan banyak potensi spiritual dan sejarah di wilayah Kemangkon, Bukateja, dan bahkan Purbalingga.

Desa Kemangkon juga merupakan salah satu desa yang di aliri oleh sungai serayu. Dan konon ceritanya Sungai Serayu memiliki sejarah yang unik yaitu Sekitar 20 km di sebelah utara kota Wonosobo, yaitu di sebuah daerah dataran tinggi Dieng terdapatlah sumber mata air, mata air tersebut bernama Tuk Bima Lukar. Menurut cerita atau legenda masyarakat sekitar, Tuk Bima Lukar mempunyai daya tarik tersendiri. Yaitu dipercaya bisa membuat orang awet muda dengan membasuh muka atau mandi dengan air di tuk tersebut. 

Sedangkan asal mula cerita Tuk tersebut berawal pada suatu ketika sang pandawa sedang pergi ke Dieng untuk membangun Candi sebagai tempat pemujaan, di tengah perjalanan salah satu orang Pandawa yaitu Bima merasa ingin buang air kecil (kencing), lalu dia berhenti untuk kencing. Dan anehnya air kencng itu kemudian menjadi sebuah sumber mata air yang berupa sendang. Airnya tersebut sangatlah bersih dan jernih.

Pada suatu hari, Dewi Drupadi ingin mandi di sendang tersebut, maka berangkatlah Drupadi ke sendang tersebut itu, Drupadi segera melepas pakaian untuk mandi, Bima terkejut menyaksikan kecantikan Drupadi Dalam kondisi telanjang bulat tersebut. Mendadak ia merasa ingin kencing, maka dengan membelakangi Dewi Drupadi ia kencing. Dan Dewi Drupadi tahu perbuatan Bima tersebut.

Kemudian Dewi Drupadi bertanya:
Hai Kanda, mengapa Kanda membalikan badanmu? Sambil kencing Bima menjawab maaf, setelah saya melihat dinda melepas pakaian, saya terpesona, ternyata adinda adalah seorang putri yang cantik jelita tiada tara, yang dalam bahasa jawa nya Bima mengatakan bahwa “Siro Ayu” (kamu cantik), Dewi Drupadi tersipu malu mendengar sanjungan Bima tersebut. 

Dan akibatnya air kencing Bima tersebut menjadi tumpah. Dan terjadilah Sungai Serayu, yang diambil dari kata sira ayu, sedangkan sendang tersebut bernama tuk Bima lukar.
Hingga kini Sungai Serayu Mengalir dari Wonosobo dan bermuara di laut Cilacap.

Desa kemangkon termasuk desa yang mistis karena terdapat kepunden.


Hanya Manusia Biasa yang ingin berbagi ilmu. Semoga Bermanfaat dan Terima Kasih

Post a Comment